
Pada Rabu, 8 Juli 2026, Tim Penelitian BIMA yang diketuai oleh Ibu Siska Amelia Maldin. M.Pd bersama anggota tim, yaitu Bapak Associate Professor Dr. Agung Edy Wibowo, Bapak Yudha Wardani, S.Par., MM.Par, Bapak Tito Pratama, M.Par, dan Sarah Fathiyyah Azhar, S.I.Kom, melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah perwakilan desa wisata di Kota Batam, Kepulauan Riau. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian fundamental berjudul Perancangan Model Konseptual Pembelajaran Speaking Interaktif Berbasis AI-Driven Progressive Apps Terintegrasi Metakognisi untuk Pemandu Desa Wisata Pesisir Kepulauan Riau. Penelitian tersebut mengembangkan sebuah aplikasi berbasis AI agent bernama MariSpeak yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris para pemandu desa wisata.
FGD diselenggarakan sebagai wadah untuk menggali kebutuhan, permasalahan, serta masukan langsung dari para pelaku desa wisata terkait pengembangan kompetensi sumber daya manusia, khususnya dalam kemampuan berbahasa Inggris. Melalui diskusi ini, tim peneliti memperoleh berbagai perspektif mengenai tantangan yang dihadapi pemandu wisata ketika berinteraksi dengan wisatawan mancanegara, sehingga hasil penelitian nantinya dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Ketua Pokdarwis Pandang Tak Jemu, Bapak Gari Dafit Semet, menyampaikan bahwa aplikasi MariSpeak sangat dibutuhkan oleh para pemandu lokal. Menurutnya, masih banyak istilah budaya, tradisi, maupun kearifan lokal yang sulit dijelaskan dalam bahasa Inggris kepada wisatawan asing. Selain itu, kendala komunikasi juga sering muncul ketika wisatawan berbelanja suvenir di desa wisata. Perbedaan pemahaman terhadap istilah tertentu kerap menyebabkan kesalahpahaman dalam proses negosiasi maupun transaksi jual beli. Oleh karena itu, kehadiran MariSpeak diharapkan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris para pelaku desa wisata sekaligus memperkuat kualitas pelayanan kepada wisatawan.
Dalam kesempatan yang sama, Bapak Gari Dafit Semet juga menyoroti potensi pengembangan wisata kuliner sebagai salah satu daya tarik desa wisata di Kepulauan Riau. Menurutnya, selain ekowisata mangrove, wisata bahari, dan wisata budaya, kekayaan kuliner Nusantara dapat menjadi alternatif unggulan, khususnya bagi desa wisata yang memiliki potensi mangrove maupun bahari yang terbatas. Penguatan sektor kuliner dinilai mampu memperluas pilihan atraksi wisata sekaligus meningkatkan daya saing destinasi melalui pengalaman kuliner yang autentik.
Sementara itu, perwakilan desa wisata lainnya, Bapak Bakrim Bere dari Desa Wisata Pesisir Pulau Bulang, mengungkapkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan desa wisata. Sejalan dengan hal tersebut, anggota tim peneliti, Bapak Associate Professor Dr. Agung Edy Wibowo, menjelaskan bahwa MariSpeak dirancang sebagai media pembelajaran yang dapat memfasilitasi masyarakat, termasuk mereka yang belum memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Menurutnya, peningkatan kompetensi komunikasi melalui aplikasi ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan wisata, memperkuat daya saing desa wisata, serta memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ia juga berharap hasil penelitian ini dapat menjadi perhatian dan memperoleh dukungan dari Dinas Pariwisata untuk implementasi yang lebih luas.
Melalui pelaksanaan FGD ini, tim peneliti berharap seluruh masukan, pengalaman, dan pandangan yang disampaikan oleh para pelaku desa wisata dapat menjadi landasan penting dalam penyempurnaan penelitian dan pengembangan aplikasi MariSpeak. Diskusi ini tidak hanya menjadi sarana pengumpulan data penelitian, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan antara akademisi dan pelaku desa wisata. Dengan demikian, hasil penelitian yang dihasilkan diharapkan mampu memberikan solusi yang relevan bagi kebutuhan pengembangan sumber daya manusia desa wisata pesisir di Kepulauan Riau serta mendukung peningkatan kualitas sektor pariwisata secara berkelanjutan.
Kontributor: Sekretariat
Related posts




