
Dalam rangkaian Focus Group Discussion (FGD) kurikulum bersama mitra industri untuk memastikan pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja global. Para ‘Jawara’ industri dan pemilik usaha berikan masukan berharga. FGD yang terbagi dalam tiga program studi, yakni Diploma IV Manajemen Tata Hidangan, Diploma IV Manajemen Divisi Kamar, dan Diploma IV Manajemen Kuliner, menghadirkan puluhan perwakilan industri yang memberikan masukan langsung terhadap penyusunan kurikulum berbasis kebutuhan riil dunia kerja. F&B jantung mata rantai Hospitality. Sebagai pembuka Drs. Ardiwinata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam menekankan pentingnya karakter hospitalitas lokal sebagai keunggulan SDM Batam. “Batam sebagai destinasi wisata internasional memerlukan SDM Tata Hidangan yang tidak hanya menguasai standar pelayanan, tetapi juga mampu menghadirkan keramahtamahan khas Indonesia di meja tamu. Ini harus menjadi ruh kurikulum,” ujarnya.
Sesi FGD Program Studi Manajemen Tata Hidangan yang dimoderatori dengan sangat dinamis oleh Wakil Direktur II Dr.Syafrudin Rais.,M.Par yang juga dosen F&B mendapat kesempatan pertama. GM Wyndham Panbil Hospitality , Rizal menyampaikan berbagai pendapat terkait F&B yang merupakan ‘jantung’ mata rantai F&B . Senada dengan hal tersebut itu, Benni Sufka, Head Bartender Harper Premier Nagoya, menegaskan bahwa perkembangan tren minuman menuntut kurikulum yang adaptif. “Tren beverage saat ini sangat dinamis. Mahasiswa perlu diperkenalkan pada inovasi mixology, sustainability dalam penggunaan bahan, serta standar higienitas global. Kurikulum harus berani masuk ke area itu,” katanya.
Sementara itu, Bapak Jerry dari Tatido Coffee Roasters menambahkan pentingnya pemahaman rantai nilai kopi. “Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup global. Mahasiswa perlu memahami rantai nilai kopi dari hulu hingga hilir agar bisa menciptakan pengalaman dining yang berkelas dan berbeda,” ungkapnya. Tampak hadir tokoh Batam antara lain Bakar Efendi (Kesiangan Loka dan Mentari).
Frontliner butuh Sense of Hospitality yang Tinggi Berlanjut pada FGD Manajemen Divisi Kamar, kembali Drs. Ardiwinata menggarisbawahi peran mahasiswa sebagai garda terdepan industri perhotelan. “Frontliner di industri perhotelan adalah wajah pariwisata kita. Mahasiswa Divisi Kamar harus ditempa agar memiliki sense of hospitality yang tinggi, karena mereka adalah garda terdepan dalam menyambut wisatawan,” jelasnya. Ibu Ery Nasution, HR Manager Wyndham, menambahkan bahwa keseimbangan hard skills dan soft skills wajib ditekankan dalam kurikulum. “Kurikulum harus menyeimbangkan hard skills seperti housekeeping dan front office dengan soft skills seperti komunikasi efektif dan problem solving. Dunia kerja menuntut SDM yang komplet, bukan hanya teknis,” katanya. Hal ini diperkuat oleh Bapak Untung Dame, Executive Housekeeper Grand Mercure, yang juga merupakan Ketua IHKA Kepulauan Riau menyoroti perkembangan teknologi. “Teknologi housekeeping kini semakin maju. Dari smart cleaning tools hingga green housekeeping, mahasiswa harus dikenalkan agar tidak tertinggal,” ujarnya.
Diskusi hangat semakin memperkaya FGD dengan berbagai saran yang datang antara lain dari Bpk. Andrianus, Front Office Manager Aston) serta Narasumber yang menyapa melalui daring yaitu Bapak Jaya Atmaja (HR Director) Sheraton Bandung Hotel and Tower dan Harrison Tapondung, People Development Director, The Apurva Kempinsky Bali. Selain itu kehadiran GM Hotel Santika , Bapak Sukardi yang secara tuntas mengupas aspek sistim aplikasi perhotelan terkini dan Ibu Zamilah David (Digital Marketing & Communication Manager Holiday Inn) yang menyebut kebutuhan. Kontributor: Bidang III





