
Dalam FGD di ITEBA, Dr. I Wayan Thariqy Kiwikaba Pristiwasa, M.Par. Dosen Magister Terapan Politeknik Pariwisata Batam ini menegaskan pencemaran laut bukan sekadar isu lingkungan, tetapi ancaman serius bagi citra dan ekonomi pariwisata Batam.
Batam – Dr. I Wayan Thariqy Kiwikaba Pristiwasa, M.Par., atau yang akrab disapa Dr. Derick, dosen Program Studi Magister Terapan Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Politeknik Pariwisata Batam, menjadi narasumber inti dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Dampak Sosial-Ekonomi Pencemaran Laut terhadap Pariwisata di Batam” di Kampus ITEBA, Tiban Ayu, Sabtu (13/9/2025).
Dalam paparannya, Dr. Derick menegaskan bahwa pencemaran laut bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi keberlanjutan pariwisata Batam. Ia mencontohkan kasus tumpahan minyak di perairan sekitar Kampung Melayu yang mengakibatkan penurunan wisatawan secara drastis serta kerugian besar bagi masyarakat pesisir.
“Pariwisata Batam sangat bergantung pada laut dan pesisir sebagai daya tarik utama. Begitu laut tercemar, citra destinasi langsung menurun, wisatawan enggan datang, dan ekonomi masyarakat ikut terpukul. Karena itu, menjaga kebersihan laut sama pentingnya dengan membangun infrastruktur wisata,” ujar Dr. Derick. Ia menambahkan, penanganan pencemaran laut harus melibatkan pendekatan Penta-Helix yang mengintegrasikan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. “Kolaborasi ini menjadi kunci agar pariwisata Batam tidak hanya berkembang, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Wakil Rektor I Bidang Akademik ITEBA sekaligus pemrakarsa kegiatan, FGD Dr. Eng. Ansarullah Lawi, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Dr. Derick dan seluruh peserta.
“Kami berterima kasih atas kontribusi Dr. Derick yang telah memberikan perspektif komprehensif mengenai dampak pencemaran laut terhadap pariwisata. Kehadiran berbagai stakeholder hari ini juga membuktikan bahwa kolaborasi adalah jalan terbaik untuk mencari solusi nyata. Semoga rekomendasi yang dihasilkan FGD ini dapat ditindaklanjuti secara konsisten demi terwujudnya pembangunan Batam yang berkelanjutan,” ujarnya.
Rekomendasi ini diharapkan menjadi pijakan dalam memperkuat pembangunan berkelanjutan Batam, sehingga pariwisata tetap tumbuh dengan mengedepankan prinsip blue economy dan green economy.
Kontributor: Bidang II
Related posts




