
Batam 19/9 Di tengah tingginya arus pekerja migran asal Kepulauan Riau yang berangkat ke berbagai negara, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau meluncurkan inisiatif strategis berupa pembentukan Migrant Center. Pusat layanan ini dihadirkan sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak untuk memastikan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) mendapatkan informasi yang jelas, perlindungan yang nyata, dan jalur keberangkatan yang aman. Migrant Center bukan hanya sekadar meja informasi, melainkan ruang kolaborasi lintas sektor. Lembaga ini menghubungkan pemerintah daerah, balai latihan kerja, lembaga pendidikan tinggi, hingga pelaku usaha dan penyalur tenaga kerja. Kehadirannya diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran sekaligus memperkuat sistem perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), terutama di wilayah perbatasan yang rawan praktik penipuan, pemalsuan dokumen, hingga tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Kepala BP3MI Kepri, Kombes Pol Imam Riyadi, MH menegaskan pembentukan Migrant Center merupakan tindak lanjut dari program Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) serta rapat Sosek Malindo 2025 di Johor Bahru. “Migrant Center ini melibatkan lembaga pendidikan tinggi, balai latihan kerja, pemerintah daerah, hingga badan perbatasan. Kekhususan Kepri harus dikembangkan dalam rangka membuka peluang kerja luar negeri dan mengurangi angka pengangguran,”.
Pada tahap awal, BP3MI Kepri telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor di Batam Tourism Polytechnic (BTP) pada Kamis (18/9/2025). Rapat ini dihadiri oleh jajaran pejabat terkait, di antaranya Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi Kepri, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Mikro Kota Tanjungpinang, serta Kepala Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) Provinsi Kepri. Hadir pula Kepala BLK Kota Batam, Direktur Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang, Direktur Stikes Awal Bros Batam, Direktur Batam Tourism Polytechnic, serta perwakilan perusahaan P3MI dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), termasuk PT Tenaga Sejahtera Wirasta, PT Tunas Karya Sukses Berkarya, PT Indo Sumber Mandiri, PT Graha Cipta Utama, PT Kepodang Makmur Sejahtera, PT Ahwa Internasional Resources, PT Prestasi Abadi Sukses, PT Defita Bersaudara, PT Trias Insan Madani, PT Bumi Mas Antar Nusa, LPK Bintan Cakrawala, dan LPK Geweld Batam. Selain itu, rapat juga diikuti secara daring oleh jajaran dinas ketenagakerjaan kabupaten se-Kepri, yakni Karimun, Bintan, Lingga, Kepulauan Anambas, dan Natuna.
Salah satu peserta FGD Bapak Bukti Rantau, Pengawas Ketenagakerjaan Ahli Madya Disnakertrans Kepri, menyampaikan apresiasi atas terbentuknya Migrant Center. “Kami menyambut baik keberadaan Migrant Center ini karena bertujuan melindungi profesi-profesi yang sangat dibutuhkan di luar negeri,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BP2D Kepri, Doli Boniara, menilai keberadaan Migrant Center juga memberikan kepastian hukum bagi warga negara yang bekerja di luar negeri. “Ini sejalan dengan tupoksi BP3MI, yakni memastikan perlindungan tenaga kerja Indonesia,” tegasnya.
Dari sisi akademisi, Wakil Direktur Bidang II Dr.Syafrudin Rais, M.Par yang didampingi oleh Wakil Direktur Bidang III Kerjasama dan Kemahasiswaan Eva Amalia, M.Si Batam Tourism Polytechnic (BTP), menilai Migrant Center menjadi bentuk nyata sinergi multipihak. “Selain itu, Migrant Center ini juga menjadi solusi bagi alumni BTP yang ingin bekerja di luar negeri,” ujarnya.
Dengan demikian, Migrant Center Kepri hadir tidak hanya sebagai infrastruktur layanan, melainkan simbol keseriusan negara dalam menjaga martabat pekerja migran sekaligus memperluas peluang kerja global bagi masyarakat Kepulauan Riau.
Kontributor: Bidang III
Related posts




