
Batam, 1 September 2026 — Selat Malaka bukan sekadar jalur perdagangan dunia. Di balik lalu lintas maritim yang padat, kawasan ini menyimpan kekayaan budaya, kehidupan masyarakat pesisir, serta potensi ekonomi yang menjadi bagian penting dari masa depan kawasan. Semangat tersebut menjadi salah satu bahasan dalam kunjungan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) ke Batam Tourism Polytechnic (BTP), Selasa (1/9).
Kunjungan Pengurus Besar ISMI yang diwakili Sekretaris Jenderal Dr. Yanhar Jamaluddin, M.AP dan Wakil Sekretaris Jenderal Tengku Ryo Rizqan B. Mus. Ed, M.Sn tersebut disambut oleh Dr. Eryd Saputra, S.Par., M.M., M.Sc., Wakil Direktur I BTP, dan Eva Amalia, M.Si., Wakil Direktur III BTP. Pertemuan turut dihadiri Wahyudi Ilham, S.I.Kom., MM.Par., Kepala Bagian Puslitabmas dan Bagian Kerja Sama, serta Amelia Teresa, S.Pd. Tampak hadir pula Dr. M. Irvanni Bahri, S.E., M.Si., CBSM., CHRMP., Ketua Program Studi Perdagangan Internasional, dan Devina Wistiasari, S.M., M.M., Kepala Biro Kerja Sama ITEBA.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan menjajaki sinergi antara ISMI dan BTP, khususnya dalam mendukung agenda akademik yang berkaitan dengan kemaritiman, ekonomi biru, kebudayaan Melayu, serta keberadaan masyarakat laut dan pesisir. Salah satu agenda utama yang menjadi perhatian adalah persiapan The 1st International Conference on the Strait of Malacca (ICSM) 2026, yang akan digelar di Provinsi Kepulauan Riau pada 24–25 September 2026. Mengusung tema “Assessing the Future of the Strait of Malacca: IMO Global Regulations, Blue Economy, and the Existence of Marine and Coastal Indigenous Peoples”, konferensi ini membawa isu Selat Malaka ke dalam ruang dialog akademik yang lebih luas. ICSM 2026 dirancang sebagai forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, organisasi lingkungan, hingga tokoh adat maritim untuk membicarakan masa depan Selat Malaka dari berbagai perspektif. Tidak hanya melihat Selat Malaka sebagai jalur strategis perdagangan dan pelayaran, konferensi ini juga menyoroti keberlanjutan ekosistem serta hak dan keberlangsungan hidup masyarakat adat laut dan pesisir.
Bagi ISMI, penyelenggaraan ICSM 2026 menjadi bagian dari upaya menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai Selat Malaka—sebagai ruang ekonomi, ruang ekologis sekaligus ruang budaya yang memiliki keterikatan kuat dengan masyarakat Melayu dan komunitas pesisir. Dalam rangka menyukseskan konferensi tersebut, ISMI mengajak BTPdan ITEBA untuk berkolaborasi, khususnya dalam mendukung penyediaan aula, fasilitas kegiatan, serta publikasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat penyelenggaraan ICSM 2026 sekaligus membuka ruang keterlibatan perguruan tinggi dalam forum akademik bertaraf internasional tersebut. Melalui sinergi ini, BTP, ITEBA dan ISMI diharapkan dapat bersama-sama mendorong lahirnya gagasan, riset, dan rekomendasi strategis yang memberikan kontribusi bagi pengelolaan Selat Malaka yang berkelanjutan. ICSM 2026 sendiri ditargetkan menghasilkan prosiding ilmiah internasional serta policy brief yang dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait tata kelola Selat Malaka.
Kunjungan ini sekaligus menjadi langkah awal untuk memperluas jejaring kolaborasi BTP dengan berbagai pemangku kepentingan, sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi dalam menghadirkan gagasan dan kontribusi nyata bagi pengembangan maritim, ekonomi, lingkungan, serta kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau.
Kontributor Bidang III , Rizka Aulia
Related posts




